ASMARALOKA NAWANI
Semarang, Desember 2010
Sore
itu cuaca tidak begitu cerah, menyembunyikan sang surya yang seharusnya masih
berdiri gagah di cakrawala, dan mengubah langit sore itu menjadi warna jingga
yang sangat indah. Kedua sosok berseragam putih abu-abu terlihat masih berada
di tengah jalan mengabaikan suhu yang membuat siapapun akan menggigil
kedinginan, seharusnya laki-laki yang mengendarai motor itu mempercepat laju motornya
agar mereka segera sampai rumah. Nawawi menambah kecepatan motornya seraya
berkata, “Ani , kamu pegangan aku yang kuat ya. Sebentar lagi hujan, kalau kita
tidak cepat-cepat nanti bisa kehujanan.”
Gadis yang bernama Ani membonceng Nawawi dibelakang, ia mengangguk kecil, “Iya,
Nawa!!” jawabnya setengah berteriak.
Ani
menundukan kepalanya, berlindung dibalik punggung Nawawi ketika terpaan angin
terasa merasuk sukma, tidak lama kemudian rintikan gerimis sudah mulai turun
perlahan membasahi mereka berdua. Ani merapatkan jaketnya sesaat rintikan
gerimis mulai berubah menjadi hujan, “Nawa, kita berteduh dulu yuk ! Hujannya
semakin bertambah lebat nih. Itu ada warung, kita bisa beli makanan dulu
sekalian nunggu hujanya reda.” Kata Ani, dia berteriak dan berharap suaranya
cukup didengar oleh telinga Nawawi, karena bunyi deruan angin dan rintikan
hujan menimbulkan suara yang cukup berisik.
Nawawi tidak menjawab tetapi
telinganya berhasil menangkap apa yang diteriakkan Ani, dia membelokan motornya
ke arah warung kemudian duduk di salah satu kursi kayu yang berjajar. Suasana
warung itu tidak ramai hanya ada beberapa orang yang tampak sedang berteduh,
juga ditemani dengan segelas minuman yang terlihat mengepulkan asap kecil dari
cangkirnya. Ani melepaskan jaketnya dan menggosok kedua telapak tangannya, dia
tersenyum kepada sosok ibu yang berdiri menghampiri mereka dengan senyum ramah,
“Bu, kita pesan teh hangat dua sama mi rebus ya.” Ibu itu mengangguk kemudian
berbalik dan meninggalkan Nawawi dan Ani. “Ani coba kamu kabari ibumu dulu,
nanti tante Arsy khawatir mencari kamu.” Kata Nawawi. Laki-laki ini adalah
sahabat Ani, mereka sudah bersahabat sejak kelas 4 SD.
Nawawi adalah satu-satunya laki-laki yang dapat mengerti Ani . 7 tahun bersama gadis itu membuat memorinya menyimpan dan menghafal setiap hal dan segala sesuatu yang tidak disukai dan disukai oleh Ani. Nawawi selalu menyukai sahabat perempuannya itu, ia merasa sangat tenang dan tidak tahu apa definisi lain selain kata bahagia untuk menggambarkan saat-saat ia bersama Ani. “Udah kok Nawa.” Jawab Ani, dia melipat tangannya di atas meja dan merubah posisi duduknya sedikit bergeser, “Eh kamu tahu tidak kemarin Rendy nembak aku.” Nawawi menatapnya, “ Yang bener? terus gimana ? Kalian jadian ?”tanya Nawawi tidak dapat menutupi rasa kagetnya. Ini adalah kali ke 4 Nawawi mendengar pernyataan yang sama dari Ani. Sejak mereka masuk SMA entah sudah ada berapa laki-laki yang menembak sahabatnya itu.
Tak
heran karena Ani adalah gadis yang cantik dan juga memiliki otak yang cerdas,
beberapa bulan yang lalu ia baru saja menjuarai lomba debat Bahasa Inggris
antar SMA di Semarang, semua yang ada pada gadis ini memiliki nilai tambah
dimata teman laki-laki dan para kakak kelasnya. Pembawaannya yang ramah
membuatnya dikagumi oleh banyak orang. Gadis ini bukan tipe gadis yang feminim,
bahkan bisa dikatakan cuek tidak terlalu mementingkan pakaian yang ia kenakan,
baju kemeja dan celana panjang warna hitam adalah pakaian kesukaannya. “Menurut
kamu Rendy gimana Nawa, dia kan teman basket kamu ?”
Nawawi menghela napasnya, dan tersenyum tipis. “Dia baik, pintar juga, tapi..
kalo masalah keren sama ganteng ya gantengan aku lah..”Ani tertawa, dia
mengibaskan tangannya di depan wajah Nawawi, “Alah kamu. Dasar percaya diri banget
sih!” Nawawi tertawa, “Kamu suka tidak sama dia ?” tanya Nawawi, kali ini suara
laki-laki itu terdengar cukup serius dan tenang.
Ani berdehem pelan, dia baru
saja hendak memberikan argumennya tetapi sang ibu datang mengantarkan
pesanannya. Ani mengucapkan terimakasih sebelum ibu itu pergi, dia mengaduk teh
hangatnya dan menyeruputnya sedikit. “Aku…” suara Ani terhenti. Ada sedikit
keraguan saat ia hendak melanjutkannya. “Aku tidak tahu Nawa, kamu kan tahu
sendiri selama ini banyak yang nembak aku tapi selalu aku tolak. Pacaran itu
emang buat apa sih?. Sepertinya tidak penting juga kan. Umur aku juga baru 16 tahun.
Apa kata mamaku coba nanti, kecil-kecil udah pacaran. Dan aku lihat si Tika
yang seminggu kemarin baru jadian sama Bagas eh kemarin udah putus dan dia
nangis-nangis gitu. Haha, kurang kerjaan kan ?” Nawawi tertawa kecil, “Hahaha
kamu tuh ya Ni, yang nembak kamu itu orangnya keren-keren. Si Tomi ketua OSIS,
Amir kapten sepak bola SMA kita, Damar juara lomba matematika dan terakhir ini,
Rendy anak basket. Apa coba yang kurang dari mereka ? Eh.. kamunya malah nolak
mereka semua.”
Ani mengunyah mi nya, dia ikut tertawa. “Nawawi sahabatku yang paling ganteng sedunia, aku masih kecil belum mau pacaran ! PDKT, tembak, jadian, manis-manisan gitu, kemana-mana pasti berdua besoknya tiba-tiba cemburu, berantem, putus deh ! Pacaran itu cuma buang-buang energi!” Nawawi mengangguk-anggukan kepalanya. Ada rasa tenang yang selalu dirasakan Nawawi setelah kekagetannya berangsur menghilang, dia tidak tahu ketenangan untuk apa. Hanya saja Nawawi saat ini merasa ingin tersenyum lebar, “Bagus deh Ni, tunggu nanti kuliah ya.”
Semarang, Januari 2011
Nawawi memberikan bungkus kardus berwarna putih dengan pita warna biru diatasnya kepada Ani. Nawawi tersenyum sempurna yang membuatnya terlihat sangat tampan. “Selamat ulang tahun ya Ni.” Ucap Nawawi dengan suara yang ceria, sambil mencubit hidungnya . “Aduh Nawa, jangan cubit hidungku! Aish kamu itu ya !” protes Ani tanpa ada nada marah disuaranya. Gadis itu sudah terbiasa dengan perlakuan Nawawi yang selalu seenaknya saja. “Ngomong-ngomong apa ini Nawa? Kamu tuh ya kenapa kamu bawain aku kado sih?!! Aku kan bukan anak kecil lagi ?!” “Oh jadi sekarang sahabat aku ini sudah besar ya ??” goda Nawawi seraya mencubit hidung Ani kedua kalinya , dia menggunakan nada mengejeknya yang membuat pipi Ani bersemu merah. “Idih apa sih kamu Nawa!” Ani memukul pundak Nawawi pelan. Ani tidak tahu apa gerangan yang menimpanya. Terkadang sentuhan kecil Nawawi memang membuatnya salah tingkah, jantungnya berdegup kencang, dan aliran darahnya mengalir cepat. Nawawi tertawa lagi. “Tertawa terus kamu nih! Puas banget ya jadiin aku bahan ejekan gitu !” Ani mengerucutkan bibirnya dan berjalan mendahului Nawawi, dia duduk di ayunan taman depan rumahnya. Ani menghela napasnya , ia menatap keatas dan memandang langit yang menggelap. Tidak banyak bintang yang ada di langit malam itu, hanya saja Ani merasa jauh lebih tenang malam ini.
“Nawa,
boleh aku buka tidak ?” ujar Ani , dia mengangkat bungkusan kecil itu.
Nawawi mengangguk kecil dan berjalan duduk disebelah sisi kosong sebelah Ani.
“Ya ampun Nawa. I..ini..” Ani terbata. Dia tidak tahu harus mengatakan apa,
kado yang diberikan Nawawi adalah sebuah buku berjudul ‘Memotret dengan Kamera
Lubang Jarum’ dimana buku ini cukup sulit untuk didapatkan. Ani bahkan sudah
memasuki semua toko buku yang ada di Semarang tapi dia sama sekali tidak
mendapatkan buku itu. Gadis itu memang memiliki hobi memotret. Bagi Ani foto
itu adalah kenangan dalam bentuk kongkrit.
Ani sudah bercita-cita sejak kecil ingin menjadi fotografer terkenal.
Kedua bola mata hitam itu
berkaca-kaca. Nawawi menyipitkan matanya saat menangkap setetes bening itu
keluar dari sudut mata Ani yang jatuh dengan sangat cepat, “Hei kok nangis sih
? Ih jangan nangis ! Tuh kan muka kamu jelek banget kalo mau nangis ! Ani itu tidak
pantas menangis !” Ani mengelap sudut matanya, dia terlihat mengatur napasnya
sebentar. “Ih siapa juga yang nangis !” elaknya kemudian berusaha tertawa.
“Bagus deh ! Ya sudah lebih baik traktir aku yuk, laper nih !” Nawawi menepuk-nepuk
perutnya dan tersenyum lebar. “Huu dasar ! Ada maunya deh !” Mereka berdua
kemudian beranjak dari sana, berjalan bersebelahan. “Nawa?” panggil Ani pelan.
“Hmm ?” “Ulang tahun kamu nanti mau kado apa ?” Nawawi mengerutkan alisnya, dia
menoleh melihat wajah Ani sekilas, memastikan ekspresi gadis itu kemudian Nawawi
tersenyum kecil, matanya terpejam sebentar. “Aku cuma minta kamu selalu ada
disetiap tahun saat aku ulang tahun. Sederhana kan ?” Ani tersenyum pipinya
memerah.
Semarang, Februari 2011
Putra menggenggam tangan Ani erat saat merasakan bobot dipundaknya. “Ani aku sayang banget sama kamu.”Ani menggumam pelan, “Hmm aku juga Put, kamu janji ya kita akan sama-sama terus. Kamu kan udah buat aku suka sama kamu, jadi kamu harus tanggung jawab dan menerima konsekuensinya ! ”Putra bertanya. “Konsekuensi ? Apa ?” nada suaranya meninggi. Ani diam lalu mengacak-acak rambut Putra, dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius, “Kamu nggak boleh ninggalin aku !”
Semarang, Februari 2012
“Nawa, minggu depan aku 1 tahun sama Putra. Seneng banget deh.” “Oh ? Cepet banget ya ! Aku senang dia tidak pernah menyakitin kamu Ni.” Ani tersenyum. “Kamu cepetan cari pacar, biar kita bisa double date. Banyak banget loh cewek yang suka sama kamu di sekolahan ! Kamu ganteng, ketua osis, jago basket, siapa juga yang tidak terpesona sama cowok kayak kamu !” Nawawi tertawa, tawanya bukan tawa yang lepas, sebuah tawa yang terdengar mentertawakan dirinya sendiri. Ia juga tidak mengetahui kenapa ia harus mengeluarkan jenis tawa seperti itu. “Nawa? Kamu denger aku kan ? Kok diam gitu sih ? Ada masalah ? Ada cewek yang lagi kamu suka ? Ayo kasih tahu ke aku nanti aku bantuin deh. Kita kan udah besar, tidak apa-apalah pacaran. Cinta itu membuat hidup kita jadi rame.” Helaan napas berat keluar dari rongga hidung Nawawi, “Tidak... Tidak ada kok Ni. Udahan dulu ya teleponannya, belajar sana bentar lagi kita kan ujian”.
Semarang, Maret 2012
Putra mendekatkan wajahnya kearah Ani dengan gerakan perlahan, “Kamu apa-apaan sih Put ?” nada suaranya meninggi tanda emosi. Mata Putra memerah “Aku mau minta ciuman dari kamu ! Kita kan udah 1 tahun lebih pacaran Ni, masa kamu nggak pernah memberiku apa-apa ?” Tamparan panas memecut hatinya. “Kamu kira aku cewek murahan hah ? Kita itu baru pacaran ! Enak aja main cium-cium ! Jaga sikap kamu ya Put !” Emosi Putra terpancing, seperti sebuah tamparan yang kembali mendarat di pipinya. Dia mengangkat dagunya tinggi. “Jadi kamu bukan cewek murahan ? Munafik banget kamu Ni! Si Nawawi main di rumah kamu sampai malam itu buat apa aja ? Sedangkan aku paling lama ke rumah kamu juga sampai setengah 9 ! Yang pacar kamu itu aku apa si Nawawi hah ? ”PLAK ! Tangan Ani berkedut panas. “Jaga omongan kamu ya Put! Nawawi itu sahabat aku dari kita SD ! Mama aku juga udah percaya sama dia dan tolong banget jangan nyeret-nyeret nama dia disini !” “Lihat ! Kamu belain aja dia ! Selama ini aku pacaran minta ciuman itu bukan hal yang susah ! Dan baru kali ini cewek yang pernah aku pacarin belum bisa aku dapetin ciumannya !” Ani marah, “Fine, mulai sekarang kamu tidak perlu menganggap aku pernah jadi cewek kamu Put ! Jijik aku sama kamu jadinya ! Sumpah menyesal banget selama ini buang-buang waktu sama cowok yang tidak tau etika seperti kamu !”
Semarang, April 2012
“Ni ayo makan , nanti kamu sakit. Mau sampai kapan seperti ini? Kamu tidak kasihan mama sama papa kamu ? Kamu tidak kasihan sama aku ?” “Ani, bukalah mulutmu, makan yuk dikit aja deh ! Ah tidak seru banget masa Ani yang doyan makan jadi gini sih ! Aku kangen Ani yang dulu..” “Bulan depan kita ujian Ni, move on ! Survive ! Hidup kita masih panjang. Kalau kayak gini kamu itu cuma buang-buang waktu !” Ani menghela napasnya, dia menyibakan selimutnya, sudah hampir satu bulan gadis itu mengurung diri di kamarnya, menjadi lebih pendiam, tidak nafsu makan dan menutup diri. Ia menyandarkan tubuhnya pada besi pembatas di balkon kamarnya. Tubuhnya condong ke depan, matanya terpejam bersamaan, terlihat sedang menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Banyak hal yang terjadi selama ini. Banyak hal yang berubah dan berganti. Tapi dia sadar satu yang tidak pernah beranjak dan berpindah tempat sedikitpun. Sosok itu, sosok yang selalu ada 8 tahun dalam hidupnya, menemaninya tertawa, menjadi telinganya, menampung semua keluhannya dan tidak pernah membuatnya menderita sakit seperti ini.
Nawawi berdiri ikut terhanyut dalam diamnya. Bagi laki-laki itu tawa dan kebahagian adalah hal yang paling utama. Ia bahkan rela bertahun-tahun menekan perasaannya sendiri. Selalu mengatakan semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Walau terkadang ketika ia merasa ingin menangis kenyataan bahkan menuntutnya harus tertawa, Nawawi selalu menjadi manusia paling bodoh sedunia jika sedang berada di samping gadis itu. Tapi dia tidak pernah peduli. Bertahan pada kenyataan bahwa ia masih bisa melihat gadis itu dalam penglihatan matanya, karena Nawawi sadar, dia tidak perlu mengatakan perasaannya, dia juga tidak mau menuntut apapun dari Ani. Hanya sahabat dan mungkin tidak akan pernah berubah. Dan jika harus berubah Nawawi terlalu takut jika suatu saat nanti harus dihadapkan pada kenyataan seperti yang dialami Ani dengan Putra. Menjadi seorang mantan yang dibenci. Kemudian dia harus kehilangan gadis itu, tidak ! Ini terlalu mengerikan ! Lebih baik dia berkorban sedikit saja. Dia tidak mau menjadi mantan sahabat sekaligus mantan pacar. Ani cukup hadir dan ada. maka semuanya sudah sangat cukup untuk Nawawi. “Iya Nawa, thanks banget ya selama ini, kamu memang sahabat sejatiku.” Nawawi tersenyum lega. Akhirnya bisa mendengar suara Ani.
Bandar Udara Internasional Ahmad Yani , Juni 2012
“Kejar cita-cita kamu ya Ni, jaga diri baik-baik disana, ingat makan, istirahat yang cukup, jangan lupa sempatin berkabar dengan sahabat kamu ini ! Nawawi mencubit hidung Ani, kemudian mereka tertawa bersama.
Setelah kelulusan, Ani memutuskan kuliah di Pontianak, Nawawi juga sudah mengetahui cita-cita gadis itu untuk bisa kuliah disana. Meski berat, ia tahu saat melepas gadis itu akan tiba. Nawawi masih menyimpannya dengan sangat baik. Tertawa, meledek, menjahili, seperti biasa. Laki-laki yang sudah beranjak dewasa itu tahu betapa semakin sesaknya rasa yang ia pendam dan sudah berkarang di dalam hatinya. Seiring kedewasaannya, Nawawi semakin terbiasa dengan rasa sakit dan perih yang saat ini sedang menimpanya. Selama ini yang paling penting ia bisa melihat gadis itu. Tapi kenyataan yang ada di depan matanya, hanya menunggu beberapa menit lagi ia tidak akan bisa melihat gadis itu entah berapa lamanya.
Nawawi menghibur diri lagi, tidak bisa melihat wajahnya, mendengar suaranya dan mengetahui gadis itu baik-baik saja sudah lebih baik dari apapun. Ia menegakan wajahnya dan hatinya sesaat mendengar suara pemberitahuan agar penumpang dengan tujuan Pontianak segera memasuki ruang keberangkatan. “Masuk sana ! Nanti ketinggalan pesawat loh !” Nawawi mendorong tubuh Ani dan berusaha tertawa. Ani menarik napasnya, “Nawa, tidak ada yang pengen kamu bicarakan?” dia menatap Nawawi dalam-dalam berusaha mencari sesuatu yang dicarinya. “Oh iya ada !” serunya . Ani menunggu, ”Apa ?” ucapnya dengan suara terbata dan tidak sabar. Nawawi maju mendekat, “Boleh aku peluk kamu Ni ?” Tanpa pikir panjang Ani melingkarkan tangannya di leher Nawawi. Tetesan bening itu terus keluar membasahi kaos bagian pundak Nawawi. Satu menit berlalu, ia melepaskan tubuhnya dan menghela napasnya panjang. “Sudah dibilang jangan nangis ! Jelek tahu kalau nangis !” ucapnya dengan nada mengeluh yang terdengar pura-pura kesal. Ani berbalik dan terus berjalan. Yang diharapkannya tidak terjadi dan dia berhenti berharap. Mungkin anggapannya selama ini salah. Tidak pernah seperti yang diimajinasikannya. Ani menghilang dan hati Nawawi serasa dipatahkan separuhnya. Ada kosong yang menganga disana.
Semarang, Juli 2017
“Nawawi...!!”
Nawawi menghentikan
aktivitasnya, jarinya mengambang di udara lengkap dengan pena yang seharusnya
digoreskan keatas kertas putih diatas mejanya itu. Sistem kerja tubuhnya
mendadak lumpuh ketika telinganya mendengar suara itu. Sudah 5 tahun berlalu,
ia jelas masih mengingat siapa pemilik suara itu. Hanya saja masih terlalu ragu
untuk memastikan bahwa hal itu bukan halusinasinya saja. Nawawi memejamkan
matanya berusaha mengembalikan fokusnya. “Nawa..” suara itu kembali terdengar,
kali ini dengan suara yang jelas. Nawawi terkejut saat menyaksikan sosok itu
berdiri di depan meja kerjanya.
Dia terdiam seolah masih tidak percaya dengan penglihatannya. “A…Aaa..Ani ?” Gadis
itu tersenyum, “Hai.. apa kabar ?” Nawawi tanpa pikir panjang memutari mejanya
dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya masih memastikan bahwa ia benar-benar
tidak bermimpi. “Aku pulang Nawa..”
bisik Ani lirih di telinga Nawawi. Entah sejak kapan air matanya sudah membasahi
jas milik Nawawi. Nawawi membiarkan posisi itu selama beberapa saat. Merasakan
kehangatan dan kelegaan menyusupi rongga dadanya. Ia tahu bahwa sekarang semuanya
sudah terasa benar dan utuh. Nawawi melepaskan pelukannya, dia memandang wajah
sahabatnya itu, ada senyuman di bibir Ani. “Kamu sehat kan...” Ucap Ani dengan
tulus. “Hei bagaimana ada orang sana yang buat kamu naksir tidak ?”
Nawawi mengajak Ani duduk di sofa yang terletak di sudut ruang kerjanya. Ani memukul pelan kepala Nawawi, “Masih aja suka nggodain aku ya ! Sudah besar kita Nawa, dasar !” ia tertawa. “Sudah besar ya kita ? Ni. Maaf sebelumnnya aku tidak tahu ini saat yang tepat atau bukan, tapi aku sudah janji sama diri aku sendiri jika Tuhan mengizinkan, untuk yang pertama, dan aku harap bisa jadi yang terakhir dalam hidupku ucapkan kata ini ke cewek.” Nawawi berkata Pelan, kemudian ia menghela napasnya. “Aku sayang kamu Ani, lebih dari sahabat.. Kamu mau jadi….?” “Pacar ?” Ani menyela, dia tidak bisa menutupi gemuruh dalam dadanya yang terasa hampir meledak. Nawawi merespon, dia menggeleng, “Bukan, emang kamu kira kita masih ABG lagi apa !” “Terus ?” “Jadi temen tua aku.. Menghabiskan sisa umur kita dalam satu atap, jadi pemilik masa depan aku.. satu-satunya perempuan yang selalu aku lihat setiap saat , jadi ibu anak-anak aku, jadi sahabat dan pacar yang tidak pernah ada kata mantan.” Ani tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak punya alasan untuk menolak dan berkata tidak. Ia tahu satu hal, hanya laki-laki seperti Nawawi lah yang ingin ia beri masa depannya, menjadi satu-satunya laki-laki yang akan ditatapnya sepanjang hidupnya.
Pelan Ani mengangguk. Nawawi memeluk Ani, gadis itu menyembunyikan wajahnya di pundaknya, tempat paling nyaman yang baru ia sadari itu ternyata selama ini sangat dekat. Ani berbisik lirih tepat di telinga Nawawi, “Persahabatan kita itu segalanya Nawa, dan cinta.. ini adalah hadiah paling indah dari Tuhan, Terimakasih”
TAMAT
Kisah yang sangat menyentuh
BalasHapusSemangat diahh
BalasHapus